Algoritma Support Vector Machine (SVM) dalam Klasifikasi Data

Nanang SB
algoritma svm
By pixabay

Algoritma Support Vector Machine (SVM) adalah metode pembelajaran mesin yang populer dan kuat yang digunakan untuk klasifikasi dan regresi. SVM bekerja dengan memisahkan data dalam ruang berdimensi tinggi dan mencari hyperplane terbaik yang memisahkan kelas yang berbeda. Metode ini telah digunakan secara luas dalam berbagai aplikasi, termasuk pengenalan wajah, bioinformatika, deteksi spam, dan banyak lagi.

Cara Kerja SVM

Algoritma SVM mencoba membangun hyperplane yang dapat memisahkan dua kelas data dengan sebaik mungkin. Hyperplane adalah batas pembagian antara kelas positif dan kelas negatif dalam ruang fitur. SVM mencari hyperplane yang memiliki margin terbesar, yaitu jarak terpendek antara batas pembagian dan titik data terdekat dari masing-masing kelas. Titik-titik data ini disebut sebagai support vectors.

SVM juga memiliki kemampuan untuk memproyeksikan data ke dalam ruang berdimensi lebih tinggi menggunakan fungsi basis yang disebut kernel. Kernel memungkinkan SVM menangani data yang tidak linier terpisah dengan baik, dengan mentransformasikan data ke dalam ruang dimensi yang lebih tinggi, di mana data dapat dengan mudah dipisahkan oleh hyperplane linier. Beberapa kernel yang umum digunakan dalam SVM adalah kernel linier, kernel polinomial, dan kernel fungsi basis radial (RBF).

Langkah-langkah Implementasi SVM

Langkah-langkah umum dalam implementasi SVM untuk klasifikasi data adalah sebagai berikut:

  1. Mempersiapkan data: Data yang akan digunakan perlu dipersiapkan terlebih dahulu. Ini melibatkan mengumpulkan data, membersihkannya, dan melakukan pra-pemrosesan seperti normalisasi atau standarisasi.
  2. Memilih kernel: Kernel yang sesuai harus dipilih berdasarkan karakteristik data. Jika data dapat dipisahkan secara linier, kernel linier dapat digunakan. Namun, jika data tidak linier terpisah, kernel non-linier seperti kernel polinomial atau RBF harus dipilih.
  3. Menentukan parameter: SVM memiliki beberapa parameter yang perlu ditentukan, termasuk parameter kernel, parameter C (untuk mengontrol ketatnya margin), dan parameter gamma (untuk kernel non-linier). Nilai-nilai ini dapat ditentukan dengan menggunakan teknik validasi silang atau optimasi parameter.
  4. Melatih SVM: Setelah parameter ditentukan, SVM dilatih dengan data pelatihan. Proses pelatihan melibatkan mencari hyperplane yang optimal dengan meminimalkan fungsi kerugian dan memaksimalkan margin.
  5. Mengklasifikasikan data baru: Setelah melatih SVM, algoritma dapat digunakan untuk mengklasifikasikan data baru dengan memproyeksikan data ke dalam ruang fitur yang sesuai dan menggunakan hyperplane yang telah ditemukan.

Fakta Menarik tentang SVM

Berikut adalah beberapa fakta menarik tentang algoritma Support Vector Machine:

  • SVM dapat digunakan untuk masalah klasifikasi dengan dua kelas atau multikelas.
  • Metode SVM telah terbukti efektif dalam berbagai masalah klasifikasi, terutama ketika jumlah fitur lebih besar daripada jumlah sampel data.
  • Kernel linier adalah yang paling sederhana dalam SVM, tetapi SVM dengan kernel non-linier cenderung memberikan performa yang lebih baik dalam kasus data yang tidak linier terpisah.
  • Algoritma SVM rentan terhadap data yang tidak seimbang, di mana satu kelas memiliki lebih banyak sampel daripada yang lain. Teknik penanganan ketidakseimbangan kelas seperti oversampling atau undersampling dapat diterapkan untuk meningkatkan performa SVM dalam kasus ini.
  • Support vectors adalah titik-titik data yang berada di dekat hyperplane pembatas dan berperan penting dalam membangun model SVM.

Algoritma Support Vector Machine (SVM) adalah metode yang kuat dan efektif dalam klasifikasi data. Dengan kemampuannya untuk menangani data linier maupun non-linier, SVM menjadi salah satu pilihan yang populer dalam pembelajaran mesin. Dengan memahami konsep dan langkah-langkah implementasi SVM, kita dapat memanfaatkannya secara efektif untuk menyelesaikan berbagai masalah klasifikasi.

Komentar