Bulan Hijriah

Nanang SB

 

Bulan Hijriah

Bulan Hijriah atau bulan Islam adalah sistem penanggalan yang digunakan oleh umat Islam di seluruh dunia. Penanggalan ini dimulai pada saat hijrah, yaitu perpindahan Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 Masehi.

Bulan Hijriah terdiri dari 12 bulan, dan jumlah hari dalam satu bulan tergantung pada peredaran Bulan di sekitar Bumi. Karena peredaran Bulan mengambil waktu yang berbeda-beda dari satu bulan ke bulan yang lain, maka jumlah hari dalam satu bulan Hijriah pun tidak selalu sama.

Berikut adalah nama-nama bulan Hijriah beserta jumlah hari dalam setiap bulannya:

  1. Muharram (30 atau 29 hari)
  2. Safar (30 atau 29 hari)
  3. Rabiul Awal (30 atau 29 hari)
  4. Rabiul Akhir (30 atau 29 hari)
  5. Jumadil Awal (30 atau 29 hari)
  6. Jumadil Akhir (30 atau 29 hari)
  7. Rajab (30 atau 29 hari)
  8. Sya'ban (30 atau 29 hari)
  9. Ramadhan (29 atau 30 hari)
  10. Syawal (29 atau 30 hari)
  11. Dzulqaidah (29 atau 30 hari)
  12. Dzulhijjah (29 atau 30 hari)

Dalam kalender Hijriah, penentuan awal bulan baru ditentukan dengan pengamatan hilal oleh para ulama. Jika hilal sudah terlihat, maka awal bulan baru dimulai. Jika hilal belum terlihat, maka bulan sebelumnya masih berlanjut selama satu hari.

Penanggalan Hijriah juga memiliki perbedaan dengan penanggalan Gregorian yang biasa digunakan di dunia barat. Jika penanggalan Gregorian menggunakan tahun matahari sebagai acuan, maka penanggalan Hijriah menggunakan tahun lunar. Oleh karena itu, satu tahun dalam penanggalan Hijriah hanya terdiri dari 354 atau 355 hari, lebih pendek dari satu tahun dalam penanggalan Gregorian yang terdiri dari 365 atau 366 hari.

Penanggalan Hijriah digunakan sebagai acuan dalam menentukan tanggal-tanggal penting dalam agama Islam, seperti bulan Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, dan lain-lain. Selain itu, penanggalan Hijriah juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh umat Islam, seperti menentukan jadwal shalat, puasa sunnah, dan ibadah lainnya.

Komentar